17th June 2010 - Opu Buding

Warga Sinjai Sudah 14 Tahun Menderita Lumpuh

Warga Sinjai Menderita LumpuhAnak adalah titipan Tuhan. Hal itulah yang dipegang teguh Sakira, warga Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Walau ditinggal pergi oleh suaminya, Sakira tetap merawat anaknya, Iwan (25) yang telah menderita lumpuh selama puluhan tahun.

Apa yang dialami Sakira dan anaknya ini mengundang keprihatinan mendalam dari anggota DPRD setempat. Sebab salah satu program prioritas Pemkab Sinjai adalah pembebasan biaya kesehatan.

Apalagi untuk menemukan tempat tinggal Sakira dan anaknya Iwan tidaklah susah. Walau tinggal di gubuk layaknya kandang hewan, namun lokasi rumahnya hanya berjarak 20 meter dari SMP Negeri Panaikang, 100 meter dari Puskesmas Panaikang dan 200 meter dari kantor Desa Panaikang, dan hanya 50 meter dari jalan poros Sinjai-Bua.

Hanya saja, saat BKM bersama Ketua DPRD Sinjai, H Sulthani dan Ketua Fraksi PKS, Mallongi bertandang ke rumah Sakira, harus melalui petak sawah dan jalan yang licin.

Dua unsur pimpinan di DPRD Sinjai itupun kaget ketika melihat kondisi rumah yang beratap rumbia, berlantaikan tanah, dan berdinding gamacca tepat berada dekat kolong rumah warga.

“Kami sudah lama tinggal disini. Untuk menyambung hidup, bergantung pada kerelaan tetangga dan honor saya Rp 200 ribu sebagai petugas kebersihan di Puskesmas Panaikang,” ujar Sakira.

Khusus mengenai Iwan, sang ibu menceritakan, penyakit anaknya itu diderita sejak masih berumur 11 tahun. Saat itu dia masih duduk di kelas V SD.

Selain timbul benjolan, badannya juga terasa ngilu. Karena keterbatasan biaya, Iwan hanya dibawa ke puskesmas. Selama 14 tahun menderita penyakit tersebut, kondisi badan Iwan, utamanya kaki dan tangan mengecil bahkan sudah kaku. “Badannya ngilu dan tidak bisa jalan. Tangannya juga sudah kaku,” terangnya.
Untuk menghilangkan rasa ngilu yang diderita Iwan, Sakira hanya mengandalkan obat dari puskesmas. Jika obatnya habis, Iwan kembali harus menahan rasa ngilu di badannya.

Kepala Puskesmas Panaikan, dr Syamsuddin mengatakan, jika dilihat dari kondisi lingkungannya, bisa saja Iwan terkena penyakit polio. ”Hanya saja masih perlu dilakukan pemeriksaan klinis. Apalagi sudah dialami puluhan tahun. Untuk itu, penderita sudah dirujuk ek rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Ketua DPRD Sinjai, H Sulthani menilai, kasus yang dialami keluarga Sakira menandakan kurangnya kepekaan dari instansi terkait. Sebenarnya, menurut Sulthani, keluarga ini telah menerima bantuan, tapi hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara jika dilihat dari kondisi penderita, sangat membutuhkan perawatan medis secara intensif. Kasus ini menjadi bukti bahwa masih ada warga Sinjai yang belum tersentuh program kesehatan gratis. ”Program kesehatan gratis sangat bagus, tinggal implementasi dari instansi terkait. Jika melihat kondisi kesehatan yang dialami oleh Iwan, berarti program itu belum sepenuhnya menyentuh masyarakat. Apalagi tempat tinggal pasien sangat dekat dengan pusat pelayanan pemerintahan,” imbuhnya.

Menyusul temuan ini, menurut Sulthani, DPRD Sinjai sangat mengharapkan seluruh leading sektor terkait program kesehatan untuk berinisiatif dan memiliki kepekaan terhadap permasalahan kemanusiaan dan sosial masyarakat.

“Kalau bisa dibuatkan saja dompet peduli kemanusiaan untuk membantu pemulihan kesehatan Iwan,” ujar Sulthani.

Baca Berita Lainnya:

  • 23/06/2011 -- DPRD Membahas Kisruh Ruko Warga VS Pasar Makassar
    Perusahaan Daerah Pasar Makassar Raya dituding mencaplok rumah dan toko (ruko) milik warga yang berjualan di Pasar Pannampu, Makassar.Hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat di Komisi A DPRD K...
  • 01/09/2010 -- LPJ Wali Kota Makassar Di Pertanyakan
    Juru bicara Fraksi Makassar Bersatu DPRD Makassar, Kartini Galung mengatakan, LPJ tersebut dinilai fiktif sebab realisasi beberapa program pembangunan seperti program pengentasan buta aksara, tidak se...
  • 04/06/2010 -- Penundaan pemberian SK Cpns 2009 di Sinjai
    Bupati Kabupaten Sinjai "A. Rudianto Asapa.SH" enggan berkomentar banyak mengenai hal ini (Penundaan pemberian SK-CPNS 2009)...

Komentar