1st September 2010 - Opu Buding

Pemkot Harus Lebih Perhatikan Pasar Tradisional

Pasar tradisional makassar yang jorokPASAR Terong dalam beberapa hari terakhir selalu dipadati warga. Bahkan di jalan pasar yang menghubungkan Jalan Gunung Bawakaraeng dengan Jalan Masjid Raya, selalu sesak.

Selain penjual yang menggelar dagangannya hingga ke badan jalan, jalan ini juga menjadi jalur keluar masuk kendaraan. Ada becak hingga motor. Kelihatan sangat semrawut. Suasana demikian juga tampak Senin, 30 Agustus. Pasar terlihat semrawut saat Fajar melintas di sana.

Bukan semrawut saja, sampah di pasar juga berserakan. Meski kontainer sampah juga sudah disesaki sampah.

Pasar Terong ini hanya satu dari 17 pasar tradisional. Secara umum, kondisi pasar tradisional di kota ini demikian. Kotor, terlihat jorok karena pedagang dan alur orang tidak tertata baik, serta bau sampah yang menyengat. Khususnya di pasar-pasar yang berbatasan langsung dengan kanal.

Kondisi ini juga diakui sendiri Direktur Utama PD Pasar Makassar Raya, Jamaluddin Yunus. Bahkan dengan gaya berkelakar ia mengatakan bahwa yang namanya pasar tradisional, pasti jorok.

“Memang demikian (kotor dan jorok, red). Kalau mau lihat yang tidak jorok ke mal. Kalau pasar tradisional pasti jorok. Tapi kami tidak berhenti bersosialisasi soal kebersihan, penataan dan penertiban pasar. Tapi ini kembali ke soal budaya. Mereka tidak bisa berubah,” kata Jamaluddin.

Upaya satu-satunya yang dilakukan PD Pasar, kata Jamaluddin, yakni dengan memperkuat petugas kebersihan di setiap pasar. Untuk pasar yang dikenal banyak sampahnya, pihak PD Pasar menerjunkan petugas lebih banyak. “Biasanya kita siapkan sampai delapan orang,” katanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemkot Makassar, M Kasim juga mengakui kondisi pasar tradisional di kota ini yang memang masih kotor dan jorok. “Sebagai upaya kita, setiap pasar kita siapkan kontainer,” katanya.

Ada lima pasar yang selalu diserbu banyak sampah dan terlihat kotor, kata Kasim. Selain Terong, juga Pasar Pabaengbaeng, Pasar Makassar Mal, Pasar Pannampu, serta Pasar Daya. Ia menyebut kalau hanya satu kontainer sampah, itu tidak bisa cukup di pasar ini.

“Volume sampahnya memang banyak. Ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan penyadaran masyarakat. Sebab biarpun petugas maksimal bekerja, kalau warga tidak sadar tetap saja akan kotor dan jorok,” katanya.

Misalnya, kata dia, dalam hal membuang sampah ke kontainer, biasanya ada juga yang baru membuang sampah setelah kontainer sudah diberangkatkan. Jadinya sampahnya ditumpuk dan tertinggal.

Para pedagang, menurut dia, harus terus diingatkan soal pentingnya kesadaran akan sampah. Petugas kebersihan PD Pasar juga harus lebih aktif. Sebab mereka khusus digaji untuk itu dan dinas hanya menyiapkan kontainer dan pengangkutannya.

“Kita juga berharap bahwa kalau memang kontainer penuh, sebaiknya hubungi dinas kebersihan untuk pengangkutan agar sampah tidak menumpuk,” katanya.

Soal pasar tradisional yang kotor dan jorok, Wali Kota Makassar melalui Kabag Humas, Mukhtar Tahir mengatakan, ini terkait budaya masyarakat. Sebab, kata dia, seluruh elemen di pemerintahan sudah bergerak memberikan pelajaran.

“Tapi toh tetap saja ada warga yang belum paham. Budaya bersih kita belum ada di masyarakat, termasuk di pasar-pasar. Di pasar memang pasti banyak sampah tapi bukan kemudian menjadi alasan kita pasrah saja melihat pasar jorok,”

Sumber asli: fajar

Baca Berita Lainnya:

  • 13/07/2011 -- Waspada Kosmetik Palsu Di Pasar Tradisional Makassar
    Dua tahun terakhir (2009-2010) Balai Pengawasan Obat dan Makanan BPOM RI di Makassar telah mengidentifikasi adanya peningkatan peredaran kosmetik yang tidak terdaftar di sejumlah pasar tradisional di ...
  • 09/07/2011 -- Harga Sembako Di Pasar Tradisional Mulai Naik
    Menjelang Ramadan, harga sembako (sembilan bahan pokok) di Makassar mulai bergerak ke atas. Harga kebutuhan dasar rumah tangga tersebut naik di pasar-pasar tradisional kota ini. Satu-dua barang lainny...

Komentar