Upah tak layak mempengaruhi kreatifitas jurnalis - MediaMakassar.com | Situs Berita Makassar dan Sulsel Terkini

Post Top Ad



MAKASSAR, MEDIAMAKASSAR.COM- Masalah upah yang tidak layak bagi jurnalis cukup mempengaruhi banyak hal. Salah satunya soal independensi. Jika perusahaan media bersangkutan tidak memperhatikan hal ini maka praktik jurnalis amplop juga sulit dihadapi. Banyak jurnalis kemudian menggadaikan idealismenya hanya karena masalah materi.

“Jika sudah demikian, kampanye anti amplop yang disuarakan AJI Makassar tidak maksimal,” kata Koordinator Divisi Ketenagakerjaan AJI Makassar, Muhammad Yunus dalam diskusi yang digelar di Rumah Independen, Jalan Toddopuli 7 Makassar yang digelar AJI Makassar. 

Olehnya perlu ada serikat pekerja internal dan eksternal bagi jurnalis. Karena soal upah bukan lagi seremonial. Pekerja pers juga butuh hidup dan menghidupi keluarganya. Sementara untuk hidup di kota besar seperti Makassar tidak cukup jika hanya bergaji Rp1 juta hingga Rp2 juta bagi yang berkeluarga.

Abdi Satria, Jurnalis Lepas yang sudah malang melintang diberbagai media, baik lokal, nasional hingga internasional juga miris dengan kondisi sekarang. Ia menceritakan, dahulu juga ada masalah serupa, namun tidak begitu terasa karena biaya hidup belum terlalu besar. Namun untuk saat ini, semua harus diperhitungkan.

Masalah upah yang minim bagi Abdi sangat berpengaruh pada kreatifitas jurnalis. Mereka bisa melakukan segala cara untuk memenuhi kuota dari kantornya. Misalnya diwajibkan menyetor tiga hingga lima berita dalam sehari dengan bayaran Rp10.000 per tulisan. “Kalau sudah begitu, banyak yang memilih copy paste saja,” katanya.

Kondisi ini tercipta karena desakan dan kebutuhan. Maka sudah sewajarnya jurnalis mendapat upah yang layak agar mereka bisa meningkatkan kreatifitas. Jurnalis yang punya kemampuan baik akan dengan mudah diterima dibanyak tempat. Olehnya itu Abdi berharap, setiap jurnalis juga mau mengembangkan kemampuannya.(aji)

Post Bottom Ad

Pages